Kamis, 24 Juli 2014

11:40:00 AM

                             Dalam perjalanan pulang ke rumah di hari yang sangat dingin, aku menemukan dompet di jalan. Kuambil dompet itu dan ku lihat ke dalamnya untuk  mencari tanda pengenal agar aku dapat mengembalikan ke pemiliknya. Namun, dompet itu hanya berisi uang 3 dolar dan surat kusut yang tampak telah bertahun-tahun disimpannya.

                              Amplop surat itu tampak usang, yang dapat dibaca hanya alamat si pemilik. Kubuka surat itu dengan harapan membuka petunjuk. Kulihat surat itu ditulis tahun 1924, yakni hampir 60 tahun yang lalu. Tulisan tangan yang sengat indah dan feminine diatas kertas wangi berwarna biru bergambar bunga di sudut sebelah kirinya. Rupanya itu adalah surat cinta yang ditujukan kepada Michael. Isi surat itu menjelaskan bahwa si penulis tidak bisa lagi menemuinya karena dilarang oleh ibunya memberikan petunjuk kecuali pemilik dompet itu bernama Michael.
                                “Mungkin kalau alamat surat ini kusebutkan kepada bagian informasi di kantor telepon, ia akan memberiku nomor teleponnya,”kataku dalam hati.
                                “Operator,” kataku kepada operator telepon, “ini adalah permintaan yang tidak wajar, tpi aku sedang berusaha. mencari alamat pemilik dompet yang baru saja kutemukan dijalan. Apakah alamat yang tertera pada surat ini mempunya nomer telepon?”
(Kusebutkan alamt diamplop surat itu) Operator telepon menyarankan aku agar iberbicara debgab supervisornya yang juga ragu-ragu beberapa saat, tapi kemudian berkata, “Memang alamat itu memiliki koneksi telepon, tapi aku tidak boleh sembarangan memberikan nomor telepon kepada orang lain tanpa izin pemiliknya.”
Dia menjelaskan menurut kesopanan, dia harus menghubungi nomor tersebut, menceritakan tentang dompet itu dan bertanya apakah pemilik alamat itu bersedia menghubungiku.
Aku menunggu beberapa menit sampai operator itu menghubungiku, “ada seseorang yang mau berbicara dengan mu.” Aku lalu lalu bertanya kepada wanita yang ada ditelepon apakah ia mengenal seseorang bernama Hanna. Wanita itubernafas berat lalu berkata, “ohh..., kami memang membeli rumah dari suatu keluarga yang memiliki anak bernama Hanna. Tapi itu 30 tahun yang lalu.”
“tahukah anda, dimana lokasi keluarga itu sekarang?’’  tanyaku.
“Seingatku, Hanna menempatkan ibunya di rumah perawatan beberapa tahun lalu,” kata wanita itu. “Mungkin jika kau menghubungi tempat itu, mereka dapat melacaknya.”
Ia lalu memberiku nomor telepon rumah perawatan tersebut yang kemudian aku telepon, mereka berkata bahwa wanita tus itu telah meninggal dunia beberapa tahun yang lalu tapi mereka masih memiliki nomor anaknya. Aku berterima kasih kepada mereka lalu aku menelepon nomor tersebut. Wanita yang menerima telepon memberitahu bahwa Hanna sendiri sekarang juga tinggal dirumah perawatan.
Aku mulai berpikir, semua ini perbuatan bodoh. Mengapa aku harus repot-repot menemukan pemilik dompet yang didalamnya hanya ada uang 3 dolar dan secarik surat lusuh yang telah berumur 60 tahun?!
Meskipun demikian, aku tetap menelepon rumah perawatan tempat Hanna tinggal. Lelaki yang menerima telepon berkata,”benar, Hanna tinggal ditempat kami.”
Meskipun jam saat itu menunjukkan pukul 10 malam, aku bertanya apakah aku boleh mampir untuk bertemu dengannya. “Well,” katanya ragu-ragu, “ kalau kau hendak mencoba, mungkin ia masih diruangannya melihat TV.”
Aku mengucap terima kasih lalu meluncur ke rumah perawatan itu. Perawat alam dan penjaga menyambutku di pintu. Kami segera menuju lantai III dari suatu bagunan yang besar. Diruangan itu, perawat mengenalkanku kepada Hanna. Hanna adalah seorang wanita tua yang masih tampak manis, berambut perak dengan mata bersinar-sinar.  Aku bercerita kepadanya tentang dompet itu dan menunjukkan kepadanya.
Ketika melihat kertas surat biru dengan bunga disebelah kiri, ia menghela napas dalam-dalam lalu berkata “ Anak muda,surat itu adalah hubungan terakhirku dengan Michael.” Ia mengalihkan pandangannya, tenggelam dalam renungannya, kemudian berkata lembut “Aku sangat mencintainya. Usiaku saat itu 16 tahun dan ibuku menganggapku terlalu muda. Ia sangat tampan, seperti Sean Connery.”
“Ya....,” katanya melanjutkan, “ Michael Goldstein sangat baik. Bila bertemu dengannya,katakan bahwa aku sering memikirkannya. Dan....,” lanjutnya ragu-ragu, “ katakan juga, aku masih mencintainya.” Ia tersenyum sedang matanya berkaca-kaca. “ aku sampai sekarang belum menikah. Kukira tidak ada seoramg pun yang dapat menggantikannya.” Kata Hanna.
Aku berteima kasih kepada Hanna lalu mengucapkan selamat tinggal. Aku kembali lewat tangga berjalan menuju lantai I. Sesampaiku di pintupenjaga rumah perawatan bertanya, “ apakah wanita itu bisa membantumu?”  Kukatakan bahwa ia telah memberiku petunjuk. “P aling tidak aku sekarang telah mendapatkan nama terakhirnya. Tapi aku tdak akan melupakan sejenak urusan ini. Seharian aku telah berusaha mencari pemilik dompet ini.”
Kukeluarkan dompet kulit cokelat dengan renda merah. Ketika penjaga melihat dompet tersebut, ia berkata, “ Hei....tunggu sebentar.... itu adalah dompet Tuan Goldstein. Aku mengenali renda merah itu. Ia selalu kehilangan dompet itu. Aku telah menemukan dompet itu paling sedikit tiga kali.”
“ Siapa tuan Goldstein ini?” tanyaku sambil gemeteran tanganku.
“ Ia adalah penghuni lama dilantai VII. Aku yakin itu adalah dompet Mike Goldstein. Ia mungkin di dalam salah satu perjalanannya.”
Aku berterima kasih kepada penjaga itu lalu  berlari kembali ke kantor perawat. Aku ceritakan apa yang dikatakan oleh penjaga itu. Kami lalu kembali ke tangga berjalan. Aku berdo’a semoga Tuan Goldstein belum tidur. Sesampainya dilantai VII, perawat itu berkata, “ Aku kira, ia masih di ruangannya. Ia suka membaca sampai jauh malam. Ia adalah seorang tua yang menyenangkan.”
Kami menuju ke satu-satunya ruangan yang masih hidup lampunya. Di dalam ruangan itu ada seorang tua yang sedang membaca buku.  Perawat itu menghampirinya lalu bertanya apakah ia kehilangan dompetnya. Tuan Goldstein tampak kaget lalu merogoh sakunya. “ Oh..., dompet it hilang lagi,” katanya.
“Orang baik ini telah menemukan sebuah dompet, apakah itu milikmu?” tanya si perawat selagi aku mengulurkan dompet itu kepada Tuan Goldstein. Begitu  melihat dompet itu, ia tersenyum lega lalu berkata ,” Benar, itu dompetku.. mungkin terjatuh dari kantongku siang tadi. Aku akan memberimu hadiah.”
“Tidak usah, terima kasih,” kataku. “ Tapi aku harus menceritakan sesuatu kepadamu. Aku telah membaca surat itu dengan tujuan untuk menemukan pemiliknya.”
Senyum dimukanya seketika lenyap. “Kau baca surat itu?” tanya dia memastikan.
“Aku bukan hanya membacanya, aku juga tahu dimana Hanna sekarang.”
Wajahnya berubah pucat.
“Hanna? Kau tahu dimana dia? Bagaimana keadaannya? Apakah ia masih secantik dulu? Tolong.... tolong ceritakan kepadaku.” Katanya memohon.
“Ia dalam keadaan baik, ia masih secantik yang Anda kenali dahulu,” kataku lembut.
Lelaki tua itu tersenyum lalu bertanya, “ Maukah kau memberitahuku dimana dia? Aku ingin menelponya besok.”
Ia lalu memegang erat tanganku dan berkata, “Tuan, kalau saja kau tahu..., aku sangat mencintai gadis itu sehingga ketika surat itu datang, hidupku benar-benar berakhir. Sampai sekarang aku belum menikah. Kukira, sampai sekarang aku masih mencintainya.”
“ Tuan Goldstein,ikutilah aku!” kataku.
Kami bertiga lalu pergi ke tangga berjalan menuju lantai III. Jalan menuju ruangan Hanna agak gelap. Hanya ada satu atau dua lampuyang masih menyala. Si perawat segera menghampiri Hanna yang sedang melihat TV sendirian.
“Hanna,” bisik si perawat sambil menunjuk Michael yang berdiri bersamaku di depan pintu. “Kenalkah kau dengan lelaki itu?”
Ia membetulkan letak kaca matanya, melihat sejenak, tapi tidak berkata apa-apa. Michael berkata lembut, lebih mirip berbisik, ”Hanna, aku Michael. Tidakkah kau ingat kepadaku?”
Ia bernafas berat,” Michael! Aku tidak percaya! Michael! Benar-benar kau, Michaelku!”
Michael berjalan perlahan-lahan ke arah Hanna. Meraka berpelukan. Aku dan perawat meninggalkan mereka dengan air mata membasahi pipi kami. “ Perhatikan,” kataku.  “Perhatikan bagaimana Tuhan mempertemukan mereka. Apabila DIA menghendaki demikian, maka demikianlah yang akan terjadi.”
Kir-kira tingga minggu kemudian aku mendapat telepon dari rumah perawatan.
“Bisakah kau datang di pernikahan Michael dan Hanna hari Minggu?” kata suara di telepon.
Pernikahan itu sangat damai. Semua orang di rumah perawatan berpakaian rapi, ikut merayakannya. Hanna mengenakan busana berwarna abu-abu kecoklat-coklatan dan tampak sangat cantik. Michale mengenakan stelan berwarna biru tua berdiri tinggi. Mereka menjadikanku sebagai saksi. Rumah sakit menyedikan ruangan khusus. Kalau kau ingin melihat mempelai wanit berusia 76 tahun dan mempelai pria 79 tahun bertingkah seperti pasangan belasan tahun, kau harus saksikan pernikahan ini. Suatu yang sempurna untuk kisah cinta yang berlangsung selama hampir 60 tahun. (author unknown)

0 comments:

Posting Komentar